Wednesday, May 25, 2016

Beberapa istilah dalam dunia tata busana yang patut kita ketahui

Ketika memulai belajar busana baik secara offline maupun secara online, maka kita juga harus mengenal beberapa istilah dan kata-kata yang sering digunakan ketika berhadapan dengan pengerjaan busana.


Beberapa istilah di bawah ini biasanya sering berkaitan dengan ilmu tata busana. Istilah-istilah ini saya ambil dari Buku karangan Goet Poespo yang berjudul " Panduan teknik Menjahit ".

Ketika melakukan proses menjahit pakaian kita akan sering bertemu dengan pekerjaan-pekerjaan yang seringkali kita sendiri tidak tahu sebutannya. Di bawah ini adalah beberapa istilah yang berkenaan dengan menjahit baju, dan saya rasa ini akan bisa mempermudah kita sebagai pemula untuk bisa lebih memahami dunia jahit-menjahit.

Beberapa istilah dalam dunia tata busana yang patut kita ketahui adalah :

  1. Arrowhead tack. Detail dekoratif berbentuk segitiga yang dipergunakan pada ujung-ujung lipit (pleats), celah angin (vents) untuk pakaian tailored.
  2. Back-stitch (dengan tangan). Adalah suatu setik tangan yang dikenal kuat dan paling mirip dengan setik mesin dibandingkan dengan setik tangan lainnya = setik mundur.
  3. Back-stitch (dengan mesin). Adalah setik untuk menguatkan ujung-ujung setik mesin. Setik ini dibuat dengan memundurkan setiknya, menyetik kembali di atas beberapa setik terakhir. 
  4. Bar tack. Detail pekerjaan tangan melintang pada ujung-ujung dari dari pengerjaan lubang kancing, saku-saku, dan lain sebagainya.
  5. Basting. Setik-setik yang bersifat sementara dengan panjang pasti dibuat baik dengan tangan maupun dengan mesin (setik jelujur).
  6. Bias. Sebuah garis diagonal/melintang lajur/benang bahan (grain). Arah serong yang benar dan tepat bisa memberikan kemuluran (stretch) yang maksimum, dibentuk dengan meletakkan lajur benang melebar bahan sejajar dengan lajur benang memanjang bahan.
  7. Binding. Lipatan bahan tunggal (single) maupun ganda (double) disetikkan pada pinggiran-pinggiran sebagai suatu penyelesaian. Biasanya menyerong (bias).
  8. Bodkin. Adalah jarum yang berujung tumpul biasa dipergunakan untuk melewatkan tali-pita (tape) atau pita (ribbon) melalui suatu selongsong atau untuk membalik tali kor (cording) bagian baik keluar.
  9. Canvas. Tenunan rapat bahan katun atau linen yang dipergunakan untuk lapisan dalam (interfacing) = kain keras.
  10. Catch-stitch. Setik tangan menyilang biasa dipergunakan untuk menahan pinggiran kasar/tiras pada tempatnya dan memberikan sedikit kemuluran (elastis) = setik flanel.
  11. Clip. Suatu guntingan pendek pada kampuh jahit kurang lebih berkedalaman 0,3 cm dari setikan = klip.
  12. Cording foot. Sepatu mesin jahit dengan satu garpu, untuk menyetikkan tutup tarik (risluiting/zipper) dan untuk memasang tali kor (cording).
  13. Dart. Sebuah lipit yang disetik, menyempit pada satu ujung atau kedua ujungnya, dibuatkan pada sebuah pakaian untuk pas suai (fitting) bahan pada kurva = kupnad.
  14. Ease. Untuk mengepaskan secara bersamaan panjang jahitan yang tidak sepadan, supaya mebentuk kurva pada sambungan jahitan, mengatur kelebihan  bahan sehingga tidak melekuk maupun mengerut/rimpel.
  15. Edge stitching. Deretan setikan yang diletakkan dekat pada suatu pinggiran atau garis kampuh.
  16. Edging. Renda (lace) sempit atau jumbai-jumbai (ruffling) yang dipergunakan untuk hiasan penyelesaian (trimming).
  17. Eyelet. Lubang kecil (mata itik) yang dibuat dengan tangan atau ring kecil dari metal untuk memasukkan tali sepatu atau ruji/garpu gesper ikat pinggang.
  18. Facing. Sepotong bahan, baik yang dibentuk pas maupun yang serong (bias), dipergunakan untuk penyelesaian suatu pinggiran (leher, lubang lengan baju dan sebagainya) = lapisan singkap.
  19. Flap. Suatu bagian yang kecil, longgar, biasanya menumpang pada bukaan saku, atau dipergunakan sebagai saku imitasi = klep.
  20. French tack. Kisi-kisi benang selebar 1,3 cm yang dipergunakan untuk menahan dua bagian pakaian  bersamaan secara longgar.
  21. Gathering. Satu atau lebih deretan dari setikan, baik dengan mesin maupun tangan, yang ditarik untuk membentuk kepenuhan secara rata = rimpel.
  22. Grading. Merapikan (trimming) kampuh jahitan, lapisan singkap (facing) dan lapisan dalam (interfacing) pada kelebaran yang berbeda, setelah disetikkan bersama, untuk menghilangkan ketebalan jahitan.
  23. Grain line. Tanda anak panah di atas pola hyang menandai lajur memanjang atau lajur melebar benang-benang di atas bahan tenunan.
  24. Gusset. Sepotong bahan berbentuk segitiga kecil atau bentuk berlian (diamond shape), dipasangkan ke dalam suatu belahan atau sambungan jahitan untuk memberikan ekstra kelonggaran.
  25. Hemline. Garis dimana sebuah kampuh keliman dibalikkan.
  26. Inset. Sepotong bahan yang disisipkan dalam sebuah pakaian untuk pengepasan (fitting) atau untuk maksud dekoratif.
  27. Interfacing. Bahan yang dipasangkan diantara pakaian dan lapisan singkap (facing) untuk memberikan kekuatan, badan dan bentuk = lapisan dalam.
  28. Interlining. Bahan yang cocok/pantas diletakkan di antara pakaian dan bahan pelapis dalam (vuring/lining) untuk menambah kehangatan dan bentuk = bahan pelapis antara.
  29. Layout. Bagan (diagram) yag menunjukkan bagaimana meletakkan bagian-bagian pola di atas bahan untuk dipotong = merancang bahan.
  30. Lining. Bahan pelapis dalam sebuah pakaian yang dipergunakan untuk melindungi bagian luar pakaian dari kemuluran (stretching) atau kekendoran (sagging), untuk memberikan bentuk atau untuk penyelesaian bagian dalam pakaian = kain vuring.
  31. Miter. Suatu gabungan miring/diagonal dari bahan pada sudut-sudutnya.
  32. Nap. Serat-serat pendek pada bahan seperti wool dan lain-lainnya, yang telah disikat halus pada satu arah.
  33. Notch. Sebuah tanda dengan guntingan kecil berbentuk "V" sepanjang pinggiran kampuh yang menunjukkan dimana sambungan jahitan akan dipasangkan/disamakan.
  34. Overcast. Suatu setik tangan yang landai/miring, diletakkan 0,3 cm di bawah kemudian ke atas pinggiran kasar/tiras tunggal atau dobel untuk mencegah bahan dari keausan/berodol (raveling).
  35. Padding stitch. Setikan-setikan landai/miring dipergunakan pada tailoring untuk menahan lapisan dalam (interfacing) di tempatnya (pada bagian baik bahan tidak kelihatan) = setik piquer.
  36. Pile. Sengkelit/lup (loop) atau jumbai yang timbul dan membentuk permukaan bahan bulu kapas (pile) seperti beludru (velvet/velveteen), corduroy dan sebagainya.
  37. Placket. Bukaan jahitan dalam pakaian, dimana tutup tarik (rits, zipper), kancing tekan/cetit (snaps) dan lain-lainnya disisipkan.
  38. Ravel. Menarik benang-benang dari pinggiran kasar/tiras bahan untuk membentuk jumbai-jumbai.
  39. Seam-allowance. Banyaknya bahan yang tersisa di luaar garis jahit = kampuh jahit.
  40. Selvage. Penyelesaian batasan sempit pada lajur memanjang pinggiran tenunan = tepi kain.
  41. Shirring. jajaran tiga atau lebih dari setikan-setikan yang ditarik untuk membentuk kepenuhan yang rata. Shirring seringkali dipergunakan untuk dekoratif.
  42. Slip-stitch. Setikan tangan kecil-kecil yang dibuat di bawah lipatan yang setikannya harus tidak kelihatan = som.
  43. Stay-stitch. Setik-setik mesin yang teratur panjangnya, diletakkan di dalam kampuh jahit 0,3 cm dari garis setikan, untuk melindungi pinggiran-pinggiran dari kemuluran (stretching) = setik bantu.
  44. Stiffening. Bahan-bahan seperti jala kaku (crinoline), rambuut kuda (horse hair), kain keras, ataupun bahan kaku lainnya baik yang dengan atau tanpa lem/perekat. Biasa dipergunakan untuk membuat kaku bagian-bagian dari pakaian.
  45. Top-stitching. Segaris setikan di atas bagian luar dari pakaian (setelah sambungan bahan dijahitkan dan disetrika ke dalam), dekat dekat dengan garis kampuh = setik tindas.
  46. Trim. Memotong/menggunting kelebihan bahan pada kampuh jahit setelah disetik = merapikan tiras.
  47. Underlap. Satu bagian pakaian (sering terdapat dalam sebuah plaket) yang menumpang atau kelebihan di bawah bagian lainnya.
  48. Underlining. Bahan yang awet/tahan lama dipotong dalam bentuk bagian-bagian dari pakaiannya dan dipergunakan sebagai penyokong. Bagian bahan dan underlining dijahit bersamaan dan diperlakukan sebagai kesatuan selama konstruksi pembuatan.
  49. Under-stitching. Suatu garis setikan yang melabuh/meletakkan lapisan singkap (facing) pada kampuh jahit, menahan lapisan singkap pada tempatnya, tanpa harus menjahit kisi-kisi (tack) pada bagian luar dari pakaian.
  50. Vent. Suatu penyelesaian bukaan pada bagian bawah pakaian (celah angin).
  51. Welt. Pemasangan potongan bahan (strip), disetikkan ke bawah pada tiga sisi, sering dijumpai pada bukaan saku dalam.
  52. Whip. Untuk menjahit dua pinggiran lipatan bersamaan dengan setikan-setikan kecil lurus di atas dengan tangan (overhand).
Itulah beberapa istilah yang ada dan sering dipakai dalam kegiatan menjahit busana. Mungkin bisa kita anggap ini sebagai kamus istilah menjahit. Dengan mengenal istilah-istilah ini maka kita akan bisa dengan lebih maksimal lagi dalam tahap belajar menjahit yang kita lakukan.

Salam sukses untuk Anda.


No comments:

Post a Comment